Makhluk Terbaik Ciptaan Allah SWT
![]() |
| Muhammad Adib Rahman |
Tadarus:
Bacalah QS. Quraisy, Al-Ma'un, dan Al-Kautsar!
Silakan dengarkan dengan khusyu' bacaan teman kalian!
A. Surah At-Tin
Surah At-Tin [95] terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surah makkiyah yang diturunkan sesudah surah Al-Buruj. Nama At-Tin diambil dari kata "At-Tin" yang terdapat pada ayat pertama yang artinya buah tin.
Surah ini menjelaskan tentang rahasia penciptaan manusia sebagai makhluk terbaik yang pernah ada di alam semesta. Hal ini langsung dikatakan Allah SWT dalam ayat ke-4 pada surah ini. Masih tersisa beberapa poin penting dalam ayat ini yang perlu dibuka rahasia kecerdasannya. Misalkan tentang buah ti, zaitun, dan bukit Thursina sebagai perangkat balad al-amin (negeri yang aman) apa yang dimaksud dari ayat tersebut? Mari bersama kita kaji lebih mendalam lagi! ...
1. Membaca Surah At-Tin
Bacalah Surah At-Tin [95] dengan tartil!
2. Kosa kata surah At-Tin
Kosakata dalam Surah At-Tin [95] Klik!
3. Analisis Tajwid Surah At-Tin
Beberapa hukum bacaan tajwid yang terdapat dalam Surah At-Tin [95] sebagai berikut!
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُوْنِ 1
Hukum bacaan dan sebab*
1. Alif lam syamsiyah : Alif lam bertemu huruf ta' dan zai dan dibaca samar.
2. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
وَطُوْرِ سِيْنِيْنَ 2
1. Mad thabi'i : Ada huruf wawu berbaris mati
2. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِيْنِ 3
1. Alif lam qamariyah : Alif lam bertemu huruf ba' dan dibaca jelas
2. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ اَحْسَنِ تَقْوِيْمِ 4
1. Qalqalah sughra : Ada huruf qalqalah dal dan qaf yang berbaris mati.
2. Alim lam qamariyah : Alif lam bertemu huruf alif dan dibaca jelas
3. Ikhfa : Nun sukun bertemu huruf sin dibaca samar-samar
4. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَ 5
1. Gunnah musyaddah : Ada huruf mim bertasydid
2. Qalqalah sughra : Ada huruf qalqalah dal yang berbaris mati
3. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
اِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْاالصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ 6
1. Alif lam syamsiyah : Alif lam bertemu huruf shad dan dibaca samar
2. Izhar syafawi : Mim mati bertemu huruf alif
3. Qalqalah shughra : Ada huruf qalqalah jim
4. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
فَمَايُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِ 7
1. Mad thabi'i : Ada huruf alif sesudah mim yang berbaris fathah
2. Alif lam syamsiyah : Alif lam bertemu huruf dal dan dibaca samar
3. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
اَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ 8
1. Alif lam qamariyah : Alif lam bertemu huruf ha' dan dibaca jelas
2. Mad 'aridh lissukun : Apabila ada mad thabi'i atau mad layin sesudahnya ada waqaf/tempat berhenti.
4. Pengaplikasian Tajwid dalam Keseharian
Dengan memperhatikan hukum bacaan maka kita hendaknya juga bisa menerapkan tajwid dalam perilaku sehari-sehari. Contohnya masalah yang pendek tidak perlu diperpanjang, sesuatu yang jelas tidak boleh disamarkan, sesuatu yang berdengung haruslah didengungkan. Apabila semua itu sesuai maka diri akan mempunyai akhlak yang indah seperti tajwid yang indah.
Setelah kita membaca dan mengartikannya satu persatu dapat ditarik kesimpulan bahwa surah At-Tin [95] ayat 1-8 mengandug pelajaran sebagai berikut.
1. Atin-Tin disimbolkan kepada makanan (buah yang dapat dimakan) dan tempat tinggal Nabi Nuh a.s. yaitu Damaskus yang banyank pohon tin.
2. Zaitun disimbolkan pada minuman (buah yang dapat dibuat minyak) dan tumbuhan zaitun banyak di Baitul Maqdis.
3. Bukit Thursina disimbolkan dengan sesuatu yang kukuh atau kuat dan tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah SWT.
4. Kota Mekah adalah kota yang aman.
5. Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik.
6. Siapa yang tidak mensyukuri penciptaannya itu maka akan dimasukan ke dalam neraka.
7. Orang yang terhindar dari api neraka adalah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
8. Hari pembalasan itu pasti benar adanya.
9. Allah SWT adalah hakim yang paling adil.
B. Kandungan Surah At-Tin
Ada 4 sumpah penuh makna sebagai mukaddimah dari suatu pernyataan penting, ayat tersebut mengatakan: Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
Kata Tin, berarti buah tin. Sedangkan Zaitun berarti buah zaitun, buah yang merupakan salah satu sumber dari minyak bermanfa'at.
Sumpah-sumpah ini dirujukkan pada 2 jenis buah-buahan yang masyhur atau pada sesuatu yang lain. Ada banyak perbedaan pendapat dikalangan para mufassir menyangkut kepastiannya maknanya.
(1) Ada yang berpendapat bahwa tin dan zaitun adalah nama buah yang dikenal sekarang, yang menunjukkan kelebihan kandungan yang dimiliki kedua buah itu. (2) Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tempat banyaknya tin dan zaitun itu tumbuh, yaitu Yerusalem, tempat Nabi Isa lahir dan menerima wahyu. (3) Dua nama tumbuhan, ara (at-tin) dan zaitun (az-zaitun), dan dua tempat (Bukit Sinai”tempat Nabi Musa memerima wahyu; dan kota yang aman (Mekah)”tempat Nabi Muhammad menerima wahyu), digunakan Allah untuk menjadi semacam bukti kebenaran sumpah-Nya. (4) Beberapa ulama menyatakan bahwa at-tin dan az-zaitun sebenarnya juga menunjuk pada dua tempat. At-Tin adalah bukit di sekitar Damaskus, Siria. Sementara az-zaitun adalah tempat Nabi Isa menerima wahyu. (5) Ada juga yang memahami at-tin dan az-zaitun sebagai jenis tumbuhan.
![]() |
| Buah Tin/Ara dan Zaitun |
Buah
ara (at-tin) adalah buah dari sejenis pohon yang banyak tumbuh di
kawasan Timur Tengah. Buahnya bila telah matang berwarna coklat, dan
mempunyai biji seperti tomat. Rasanya manis dan dinilai memiliki gizi
yang tinggi.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa buah ara memiliki kandungan serat
yang sangat tinggi dibandingkan buah lainnya. Satu buah ara yang sudah
dikeringkan mengandung 20% serat dari yang dianjurkan untuk dikonsumsi
orang setiap harinya. Sebagaimana diketahui, penelitian yang dilakukan
dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa serat dari tumbuhan
sangat penting agar alat pencernaan dapat berfungsi dengan baik. Serat
akan membantu sistem pencernaan dan juga dapat mencegah seseorang
terkena kanker usus.
Kandungan yang dimiliki oleh buah ara juga sangat menjanjikan. Buah ini
mengandung antioksidan yang dapat mencegah timbulnya beberapa penyakit.
Antioksidan berperan untuk menetralisir beberapa unsur yang merusak
(free radicals), baik yang dihasilkan di dalam tubuh (karena beberapa
reaksi kimia dalam pencernaan) atau masuk ke dalam tubuh dari luar.
Kandungan Phenol pada buah ara juga tinggi. Bahan Phenol ini berfungsi
sebagai antiseptik untuk membunuh mikroba.
Penelitian di Universitas Rutgers di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa
kandungan yang tinggi dari omega-3, omega-6 dan phytosterol, maka buah
ara sangat potensial untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Sebagaimana diketahui, omega-3 dan omega-6 tidak dapat diproduksi oleh
tubuh. Keduanya hanya dapat diperoleh dari asupan makanan. Kedua jenis
asam lemak ini juga sangat berpengaruh terhadap kinerja jantung, otak,
dan sistem syaraf. Phytosterol sendiri berfungsi untuk menghilangkan
kolesterol yang diperoleh dari daging, sebelum kolesterol tersebut masuk
ke dalam sistem jaringan darah.
Pohon ara mengandung mineral yang cukup lengkap dibandingkan buah
lainnya. Dari 40 gram buah ara mengandung 244 mg kalium (sebanyak 7%
dari kebutuhan per hari), 53 mg kalsium (6% dari kebutuhan per hari),
dan 1,2 mg besi (6% dari kebutuhan per hari). Tingginya kadar kalsium
ini hanya dikalahkan oleh jeruk.
Buah ara juga dipercaya mempercepat penyembuhan pada seseorang yang
sedang sakit. Buah ini mengandung bahan-bahan yang diperlukan agar badan
si pasien cepat segar dan berenergi. Komponen nutrisi utama yang
dikandung buah ara adalah gula. Persentasenya cukup tinggi, yaitu
sebanyak 51% sampai 74% dari seluruh bagian buah
Demikian pula halnya dengan zaitun. Sederetan penelitian telah
mengungkapkan berbagai manfaat buah zaitun untuk kesehatan manusia.
Zaitun, yang diberi pujian sebagai "pohon yang penuh berkah" dalam ayat
35 Surah an-Nur/24, adalah tumbuhan perdu. Jenis-jenisnya tersebar di
kawasan sekitar Laut Tengah. Pohonnya dapat mencapai umur ratusan tahun.
Buah zaitun dapat dipanen untuk masa yang sangat panjang.
Sebagai bahan makanan, buah zaitun mengandung beberapa unsur yang
diperlukan manusia, seperti protein yang cukup tinggi, zat garam, besi
dan fosfor, vitamin A dan B. Zaitun juga dikenal sebagai penghalus kulit
dan digunakan dalam industri sabun. Minyaknya juga memiliki
kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki minyak hewani atau minyak nabati
lainnya. Diketahui bahwa minyak zaitun menyehatkan jantung dan pembuluh
darah.
Beberapa kegunaan minyak zaitun adalah untuk kesehatan jantung dan
pembuluh darah, pencegahan kanker, arthistis, memperlambat proses
penuaan, membantu pertumbuhan pada anak-anak, menurunkan tekanan darah
tinggi, serta kegunaan lain bagi berbagai organ bagian dalam.
Setelah itu, Allah bersumpah dengan Gunung Sinai, tempat Nabi Musa menerima wahyu (Taurat). Mengenai bahwa Nabi Musa menerima wahyu di tempat itu dikisahkan pula antara lain dalam Surah al-A'raf/7: 144. Allah berfirman:(Allah) berfirman, "Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegang-teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur." (al-A'raf/7: 144) Dalam ayat sebelumnya dikisahkan bagaimana Nabi Musa naik bukit Sinai untuk menerima wahyu. Dalam ayat ini dinyatakan pengangkatan Musa sebagai nabi dan menerima wahyu yaitu kitab Taurat.
Selanjutnya Allah bersumpah dengan "negeri yang damai". Maksudnya adalah Mekah, tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima wahyu. Bahwa Mekah adalah tempat asal Nabi Muhammad dinyatakan pula antara lain dalam Surah Muhammad/47: 13: Dan betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang pun yang menolong mereka. (Muhammad/47: 13) Dalam ayat ini terdapat informasi bahwa beliau telah dipaksa meninggalkan negeri asalnya, yaitu tempat kelahirannya (Mekah) dan hijrah ke Medinah.
Berdasarkan ayat-ayat lain lebih tepat dipahami bahwa ketiga ayat di atas menyatakan tempat ketiga nabi itu lahir atau menerima tugas kenabian mereka. Di dalam ayat-ayat lain, ketiga nabi itu memang sering disebutkan bersamaan, misalnya dalam Surah as-saff/61: 5-6: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?" Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Namun ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (as-saff/61: 5-6) Dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2 juga dinyatakan tempat ketiga nabi itu, "Tuhan telah datang dari Sina, dan terbit kepada mereka di Seir, kelihatan Dia dengan gemerlapan cahayanya dari Gunung Paran." Sina adalah Sinai tempat Nabi Musa menerima wahyu, Seir adalah pegunungan di Baitul Maqdis tempat Nabi Isa lahir dan menerima kenabian, dan pegunungan Paran adalah pegunungan Mekah, tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima kenabiannya.
Setelah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat atau tempat-tempat yang mulia itu, Allah menegaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik. Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi. Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Dan lebih-lebih lagi, hanya manusia yang beragama. Banyak lagi keistimewaan manusia dari segi fisik dan psikis itu yang tidak mungkin diuraikan di sini. Penegasan Allah bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik itu mengandung arti bahwa fisik dan psikis manusia itu perlu dipelihara dan ditumbuhkembangkan. Fisik manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Bila fisik dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan, maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatan yang besar kepada alam ini. Dengan demikianlah ia akan menjadi makhluk termulia.
Manusia yang paling baik dan sempurna kejadiannya itu akan menjadi tidak berguna bila tidak dijaga pertumbuhannya dan tidak dipelihara kesehatannya. Manusia yang paling sempurna rohaninya itu akan menjadi jahat dan merusak di muka bumi ini bila tidak diberi agama dan pendidikan yang baik. Manusia yang lemah akan menjadi beban, dan manusia yang jahat akan merusak masyarakatnya. Akhirnya di akhirat ia akan masuk neraka. Dengan demikian, manusia itu akan menjadi makhluk terhina.
Yang terhindar dari kehinaan itu adalah orang-orang yang beriman dan berbuat baik. Dengan demikian, tolok ukur kemuliaan adalah iman dan perbuatan baik itu. Hal itu karena iman berarti mengakui adanya Allah dan nilai-nilai yang diajarkan-Nya. Pengakuan itu akan menjadi jalan hidup atau akidahnya, dan karena telah menjadi akidahnya, maka nilai-nilai itu akan dilaksanakannya dengan sepenuh hatinya. Karena nilai-nilai yang diajarkan Allah seluruhnya baik, maka manusia yang melaksanakannya akan menjadi manusia baik pula. Semakin tinggi akidah seseorang semakin baik perbuatannya, sehingga ia akan menjadi manusia terbaik dan termulia. Manusia yang memiliki sikap hidup yang didasarkan atas iman dan perbuatan baik itu akan memperoleh balasan dari Allah tanpa putus-putusnya. Iman dan perbuatan baiknya itu akan berbuah di dunia, berupa kesentosaan hidup baginya dan bagi masyarakatnya, dan kebahagiaan hidup di akhirat di dalam surga.
Allah mempertanyakan bila masih ada manusia yang menganggap bohong apa yang disampaikan-Nya kepada Nabi Muhammad bahwa kemuliaan manusia itu diukur dari imannya dan perbuatan baiknya. Hal itu karena iman itulah yang akan membuahkan perbuatan baik, sedangkan keingkaran hanya akan membuahkan kejahatan.
Allah menegaskan bahwa menerapkan ketentuan tentang kemuliaan manusia
itu didasarkan atas iman dan perbuatan baiknya, itu adalah bukti bahwa
Allah Mahabijaksana. Hal itu karena iman itulah yang akan membuahkan
perbuatan baik, sedangkan keingkaran hanya akan membuahkan kejahatan,
sebagaimana disampaikan di atas. Bila kemuliaan diletakkan pada
kekafiran dan kejahatan, itu akan menghancurkan alam ini.
Intisari akhlak mulia Surah At-Tin dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari
1. Demi Buah Tin dan Buah Zaitun
Bila Tin dan Zaitun sebagai nama kota, tentu sulit bagi kita untuk mendapatkan petunjuk darinya. Tin adalah buah yang padat yang bisa dimakan oleh manusia, berfungsi untuk mengenyangkan perut. Ini adalah fakta bahwa buah tin adalah buah padat yang berfungsi sebagai makanan. Sedangkan zaitun lebih dikenal sebagai buah penghasil minyak, minyak adalah cairan. Cairan adalah minuman yang dibutuhkan oleh manusia. Kalau begitu zaitun adalah lambang minuman.
Dengan demikian, kita mendapatkan makna dari ayat pertama ini adalah demi tin dan buah zaitun, demi makanan dan minuman. Karena dua hal ini adalah kebutuhan utama bagi manusia untuk dapat hidup dimuka bumi. Maka Allah SWT memberikan penjelasan kepada manusia tentang 2 hal yang paling penting bagi dirinya untuk dapat bertahan hidup dan berperan sebagai khalifatullah. Tak mungkin kita berperan bila tak hidup. Maka hidup itu adalah syarat utama untuk bisa berupaya dan berperan.
2. Dan Demi Bukit Thursina
Bukit Thursina ada di Sinai sana, lalu bagaimana hubungannya dengan pertama tadi? Tentu saja setelah manusia mendapat makanan dan minuman maka ia akan beribadah sebagai perilaku dirinya yang mengabdi hanya kepada Allah SWT. Thursina adalah bukit, lambang sebuah kekuatan. Tentu manusia kuat dan tegak bila sudah makan dan minum. Tegaknya diri kita dalam beribadah kepada Allah SWT adalah lambang Thursina. Maka dapat kita ilustrasikan dalam tabel adalah sebagai berikut.
Buah Tin |
Buah Zaitun |
Bukit Thursina |
|
Makanan |
Minuman |
Sehat dan Beribadah |
Dengan demikian ayat 1-2 surah ini benar-benar menjelaskan masalah yang sangat penting bagi manusia yaitu apa yang dimakan dan diminum adalah dalam rangka untuk beribadah kepada Allah SWT. Makanan dan minuman yang kita konsumsi akan menghasilkan tenaga atau energi. Energi yang kita dapatkan inilah yang akan kita pergunakan untuk berperan dan beribadah dalam segala segi kehidupan.
3. Dan Demi Kota (Mekah) ini yang Aman
Pada ayat ke-3 ini menjelaskan suatu negeri yang aman. Negeri yang aman itu tentu saja adalah suatu negeri yang di dalamnya terdapat kedamaian. Tidak ada pergolakan yang menghancurkan negeri. Maka syarat untuk menjadikan sebuah negeri yang aman adalah dengan menyediakan makanan dan minuman bagi masyarakatnya dan semua masyarkatnya beribadah kepada Allah SWT sebagai rasa syukur atas makanan dan minuman yang diberikan-Nya.
Negeri yang aman adalah negeri yang cukup makanan dan minumannya dan semuanya dari pejabat hingga rakyat beribadah kepada Allah SWT. Inilah jaminan Allah SWT pada manusia bila ingin negerinya menjadi aman dan sentosa.
Berbicara tentang negeri yang aman, di dalam ilmu kenegaraan juga dikenal tentang ilmu leadership, management, dan administrasi. Semua orang yang paham negara pasti memahami bahwa untuk menciptakan sistem negara yang aman maka negara pasti memahami bahwa untuk menciptakan sistem negara yang aman maka di dalam negara tersebut harus berlangsung satu sistem leadership, management, dan administrasi yang baik.
Artinya sebuah negara akan aman dan sejahtera bila berlangsung kepemimpinan yang baik, management, yang efektif, dan adminitrasi yang sistematis. Hal ini berlaku secara global di berbagai negara. Kekacauan juga akan terjadi bila di dalam suatu negara tidak terjadi interaksi dan interelasi dengan baik.
Bila proyeksi sebuah negara dikaitkan dengan diri kita yang juga merupakan gabungan berbagai sistem seperti layaknya sebuah negeri. Maka hal ini bisa dikaitkan dengan berbagai kemampuan pada diri kita yang dapat membuat diri kita aman lahir dan batin, contohnya adalah kemampuan mendengar dan melihat akan menghasilkan bicara yang benar.
Buah Tin |
Buah Zaitun |
Bukit Thursina |
|
Melihat |
Mendengar |
Berbicara |
Bicara benar dan berkualitas tentu dihasilkan dari sumber yang baik, yaitu pendengaran dan penglihatan yang baik pula. Data dari penglihatan dan pendengaran inilah yang kemudian diolah menjadi kualitas bicara yang baik. Tak mungkin seseorang berbicara dengan baik bila tidak memiliki data dari apa yang dilihat dan didengar. Bila dikaitkan dengan lingkup masyarakat terkecil yaitu keluarga kita, maka konsep ini akan menjelma menjadi berikut.
Buah Tin |
Buah Zaitun |
Bukit Thursina |
|
Ibu yang baik |
Bapak yang baik |
Anak yang baik |
Keluarga yang baik adalah ibarat negeri yang baik, maka syarat bagi keluarga yang aman adalah ada bapak dan ibu yang baik dan akan menghasilkan anak yang baik. Di dalam hadis juga dikatakan bahwa setiap anak Adam akan mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal yaitu shadaqah/jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh. Bila kita ingin aman dari siksa neraka maka lakukanlah tiga hal berikut.
Buah Tin |
Buah Zaitun |
Bukit Thursina |
|
Shadaqah |
Ilmu yang berguna |
Anak yang shaleh |
Pada hakikatnya setiap manusia ingin memiliki diri yang aman. Aman dari kehidupan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, Allah SWT memberikan jawabannya melalui surat ini juga yang dihubungkan dengan Baitulla. Baitullah adalah hadapan dan cerminan kepribadian kita yang setiap hari kesanalah diri ini kita hadapkan.
Baitullah memiliki tiga simbol yang sangat kuat dan menjadi hadapan manusia untuk mengidentifikasikan diri ke dalam kepribadian Baitullah. Tiga simbol itu yaitu hajar Aswad, Maqam Ibrahim, dan Hijr Ismail. ketiga hal ini mewakili tiga simbol kebaikan yang harus dimiliki manusia bila ingin hidup ini aman dan damai. Simbol kebaikan membaca dan mempelajari Al-Qur'an menjadi pedoman, mendirikan shalat, dan suka berzakat. Inilah diri yang aman yang memiliki tiga hal paling penting dalam hidup manusia. Bila kita ilustrasikan akan terlihat seperti dibawah ini.
4. Sesungguhnya Kami Menciptakan Manusia dalam Bentuk yang Sebaik-baiknya
Maka sebaik-sebaiknya diri manusia adalah yang memiliki tiga kriteria di atas yang telah dijelaskan dengan gamblang. Inilah diri manusia yang sebaik-baiknya ciptaan dari Allah SWT paling tidak bila diilustrasikan akan berbentuk sebagai berikut.
QS. At-Tin |
Perangkat Diri |
Amal Manusia |
Konsep |
Organisasi |
Perangkat |
Keluarga |
|
Tin Zaitun Thursina |
Indra Otak Hati |
Shadaqah Ilmu bermanfaat Anak Shaleh |
Al-Qur’an Shalat Zakat |
Manajemen Leadership Administrasi |
Mata Telinga Mulut |
Ibu Bapak Anak |
5. Kemudian Kami Kembalikan Mereka ke Tempat yang Serendah-rendahnya (Neraka)
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya
7. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang paling adil?
C. Menghafalkan dan Menuliskan QS. At-Tin
D. Ilmu Tajwid
Hafalan Do'a-Do'a dari Al-Qur'an
1. Do'a Nabi Ayyub a.s. ketika ditimpa bencana penyakit (QS. Al-Anbiya: 83)
2. Do'a Nabi Sulaiman a.s. Pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT (QS. An-Naml: 19)
3. Do'a Nabi Isa a.s. memohon rezeki "hidangan" dari Allah SWT (QS. Al-Maidah: 144)

